Senin, 01 Juli 2013

Sambut Ramadhan 1434 H dengan Penuh Semangat



Kaum muslimin rahimakumullah,Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al Baqarah 185).

Kaum muslimin rahimakumullah,

Bulan Ramadhan segera tiba. Sudah semestinya kita menyambutnya penuh bahagia. Sebab, Ramadhan berbeda dari bulan-bulan lain. Bulan Ramadhan adalah bulan paling agung dan istimewa. Bulan yang di dalamnya ada malam yang paling istimewa, yakni lailatul qadar, malam kemuliaan yang lebih baik daripada seribu bulan. Bulan penggemblengan umat Islam dengan kewajiban shiyam Ramadhan sebulan penuh di siang hari dan shalat sunnah tarawih setiap malam. Bulan yang disunnahkan kita memperbanyak tilawah dan tadaarus Al Quran, kabarnya Rasulullah saw. sendiri dicek kembali bacaan Al Quran beliau saw. di hadapan Jibril a.s.

Marhaban Ya Ramadhan! Selamat datang wahai bulan shiyam!

Kaum muslimin rahimakumullah,

Diriwayatkan dalam Sahih Ibnu Khuzaimah bahwa Rasulullah saw. berpidato di malam menjelang Ramadhan, sebagai berikut:

“Wahai manusia! Kini telah dekat kepada kalian satu bulan agung, bulan yang sarat dengan berkah. Juga, bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik ketimbang seribu bulan. Inilah bulan yang Allah telah menetapkan puasa pada siang harinya sebagai kewajiban dan shalat tarawih di malam harinya sebagai shalat sunnah. Siapa saja ingin mendekatkan diri kepada Allah di bulan ini dengan suatu amal sunnah, maka pahalanya seolah dia mengamalkan amal wajib pada bulan lain. Dan, siapa saja melakukan amal wajib di bulan ini, dia akan dibalas dengan pahala seolah telah mengamalkan tujuh puluh amal wajib pada bulan lain.

Inilah bulan kesabaran dan imbalan atas kesabaran adalah surga. Inilah bulan simpati terhadap sesama. Pada bulan inilah rezeki orang-orang yang beriman ditingkatkan. Barang siapa memberi makan (untuk berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan balasan ampunan atas dosa-dosanya dan pembebasan dari Neraka Jahannam. Selain itu, ia juga memperoleh ganjaran yang sama sebagaimana ganjaran yang dikaruniakan atas orang yang berpuasa tersebut; tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang yang berpuasa itu!”

Kaum muslimin rahimakumullah,

Sejenak Rasulullah Saw. berhenti berpidato. Tiba-tiba seseorang di antara mereka mengeluh kepada beliau, “Wahai Rasul! Tidak semua di antara kami memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada orang yang sedang berpuasa untuk berbuka!”

Rasulullah saw. menjawab :

“Allah akan mengaruniakan balasan ini kepada seseorang yang memberi buka walau hanya dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu. Inilah bulan yang pada sepuluh pertamanya Allah menurunkan rahmat, sepuluh hari pertengahannya Allah memberikan ampunan, dan sepuluh hari yang terakhir Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka Jahannam. Siapa saja yang meringankan beban hamba sahayanya pada bulan ini, Allah Swt. akan mengampuninya dan membebaskannya dari neraka.

Perbanyaklah di bulan ini dengan empat hal. Dua hal bisa mendatangkan keridhaan Tuhan kalian, dan yang dua lagi kalian pasti memerlukannya. Dua hal yang mendatangkan keridhaan Allah ialah hendaknya kalian mengucapkan syahadat (persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah) dan istighfâr (permohonan ampun kepada-Nya) sebanyak-banyaknya. Sedangkan dua hal yang kalian pasti memerlukannya ialah hendaknya kalian memohon kepada-Nya untuk masuk surga dan berlindung kepadanya dari neraka Jahannam. Dan, barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa (untuk berbuka), Allah akan memberinya minuman dari telagaku yang dengan sekali teguk saja ia tak kan pernah kehausan lagi hingga ia memasuki surga!”

Kaum muslimin rahimakumullah,

Pidato Rasulullah Saw. itu menunjukkan, dalam shaum Ramadhan terkandung pesan moral yang amat kuat. Sedemikian kuatnya, hingga rukun Islam ketiga ini bukan saja menyeru pada panggilan kewajiban ibadah semata. Tapi, lebih jauh lagi, seruan moral itu menyeruak masuk ke wilayah-wilayah pribadi yang bersifat individual dan psikologis. Malah, ke wilayah sosial, politik, ekonomi, dan kultural. Dan, tujuan seruan itu pun amat mulia dan asli serta diajarkan lewat media yang paling efektif. Yaitu, kesabaran, persaudaraan, dan solidaritas terhadap sesama manusia yang diajarkan secara langsung lewat laku “ merasakan penderitaan” fisik pada diri setiap Muslim. Di ujung pelajaran itu diharapkan terjadi pencerahan bahwa pengendalian diri dengan tetap berpegang teguh kepada ajaran Allah SWT tentang halal haram adalah “sebaik-baik perhiasan” dalam menghadapi segala keruwetan dan kesumpekan hidup sehari-hari.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Hakikat shaum adalah merasakan ibadah dan pengawasan Allah SWT dalam keseharian kita yang seharusnya merupakan ketaatan kita kepada Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan. Ketika ada orang mengajak bertengkar, kita diminta oleh Rasulullah saw. menolaknya dengan mengatakan bahwa kita sedang berpuasa, sedang beribadah kepada Allah SWT dan sedang diawasi dan dinilai oleh-Nya. Perintah Rasulullah saw. agar kita mengatakan bahwa kita berpuasa itu berlaku untuk orang yang hendak menyuap kita sebagai penguasa, mengajak korupsi, mengajak nyolong, mengajak zina, mengajak homo dan lesbi, mengajak minum miras, mengajak berjudi, dan mengajak apa saja yang melanggar hukum syariat Allah SWT.

Dengan penuh semangat, mari kita siapkan diri untuk memasuki ibadah shiyam dan qiyam Ramadhan 1434H dengan dasar keimanan dan penuh kesungguhan untuk menggapai ridlo dan ampunan Allah SWT. Dan dengan pelatihan Shiyam Ramadhan kita tancapkan tonggak perjuangan wujudkan NKRI Bersyariah untuk menjalankan seluruh syariat Islam secara kaffah di NKRI sebagai aturan formal konstitusional dengan dasar keimanan dan kesungguhan untuk menggapai ridlo Allah SWT yang berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِين

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al Baqarah 208).

Baarakallahu lii walakum…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar