Rabu, 24 Juli 2013

ramadhan


Ramadan selalu memberikan kesan indah, penuh pesona dan selalu menggores kenangan. Apalagi jika dipandang dari sudut keimanan. Lihatlah tubuh-tubuh yang secara fisik tampak lemah, namun kekuatan ruhani ketakwaan begitu tampak memancar di balik tatapan wajahnya. Lihat pula kaki-kaki yang mantap berjalan beriringan menuju masjid-masjid untuk mempersembahkan ketundukannya kepada sang Khaliq. Perhatikanlah wajah-wajah cerah dan ceria sesaat sebelum berbuka, keceriaan karena telah menunaikan kewajibannya lebih mendahului keceriaan menghadapi hidangan yang akan disantap. 

Namun, Ramadhan bukanlah drama satu babak yang selesai begitu saja sebagai cerita yang patut dikenang seiring dengan kepergiannya. Memahami Ramadan seperti ini, tak ubahnya sebuah panggung gembira di sebuah tanah lapang yang hiruk pikuk dengan sorak sorai dan tawa riang, namun keesokan harinya, setelah panggung itu ditutup dan dirobohkan, yang ada hanya tanah lapang yang lengang, sunyi senyap, tak ada lagi sorak sorai dan tawa riang.

Ramadan –begitulah setidaknya dari pesan yang dapat kita tangkap- sesungguhnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari episode-episode kehidupan ini dengan kita sebagai pemeran utama di dalamnya. Bagaikan sebuah drama seri, dia tidak menjadi lengkap dan indah sebagai sebuah cerita manakala episode-episode berikutnya tidak nyambung dan tidak seirama. Peran-peran yang telah ditampilkan dalam 'episode' Ramadhan sangat mudah ditangkap dan dipraktekkan, bahkan kita telah sama-sama telah ikut memerankannya. Kini, setelah Ramadhan berlalu, kita tinggal meneruskan peran-peran tersebut, agar kisah ini terangkai dengan indah dan mempesona. Berilah judul-judul indah dan menarik agar memotivasi kita meneruskan kebajikan-kebajikan yang telah kita semai dalam 'episode' Ramadhan. Kalau anda belum mendapatkannya, saya dapat membantu mencarikannya berikut ini;

Ikhlash, Tangga Pertama Meraih Bahagia

Keikhlasan menjadi salah satu fokus dari ibadah di bulan Ramadhan. Perhatikanlah keutamaan berpuasa dan beribadah di malam hari Ramadhan, keduanya disyaratkan dilakukan dengan iman dan semata mengharap pahala dari Allah Ta'ala. Maka, jika puasa menjanjikan dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa; bahagia saat dia berbuka, dan bahagia saat dia berjumpa dengan Tuhannya, keikhlasan jelas menjadi tangga pertama yang harus dia tapaki. 

Di sisi lain, keikhlasan erat kaitannya dalam upaya kita untuk mengurangi ketergantungan terhadap dunia yang secara teoritis maupun praktis sering menjadi sebab kegagalan meraih kebahagiaan. Karena tabi'at dunia adalah punah, rusak, layu dan membosankan, sehingga otomatis orang yang hidup bergantung kepadanya pun akan mendapatkan hal-hal serupa. Sedangkan sifat Allah Ta'ala adalah kekal, kuat, kokoh dan indah. Maka orang yang ikhlas kepada-Nya akan bahagia, karena sifat-sifat tersebut berbanding lurus dengan kebahagiaan. 

Oleh karena itu, lanjutkanlah peran tersebut. Wujudkan keikhlasan dalam setiap aktifitas kita, dalam shalat, puasa, mencari nafkah, mempergauli keluarga, berteman dll. Insya Allah, kunci kebahagiaan telah kita genggam. 

"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik" (QS. An-Nahl: 97)

Ramadhan Yang Mempesona

Tidak ada komentar:

Posting Komentar