Al Wara, menurut pengertian terminologis artinya, menahan diri
dari hal-hal yang dapat menimbulkan mudharat lalu menyeretnya kepada
hal-hal yang haram dan syubhat, karena subhat ini dapat menimbulkan
mudharat. Sesungguhnya, siapa yang takut kepada syubhat maka dia telah
membebaskan kehormatan dan agamanya. Siapa yang berada dalam syubhat
dikhawatirkan berada dalam hal yang haram, seperti penggembala di
sekitar tanaman yang dijaga, yang begitu cepat dia masuk ke dalamnya.
Menuntut ilmu harus hati-hati karena ilmu pada hakikatnya adalah
cahaya Allah SWT. Terbitnya cahaya Allah adalah di hati. Itulah kenapa
terjadi perkelahian pelajar, penegak hukum melanggar hukum, pakar ilmu
tata negara malah mengacak-acak negara. Orang justru malah melakukan
pelanggaran dari ilmu yang diperolehnya. Seharusnya tambah ilmu tambah
cahayanya. Karena menuntut ilmu bukan karena Allah SWT.
Bertambahnya cahaya (kebaikan) hanya diperoleh oleh orang yang memiliki niat, proses sampai ujungnya benar. Hormat pada guru adalah bagian dari proses itu. Seperti kisah Imam Syafii yang tiba-tiba merasa otaknya jadi butek, jadi lalai, hati gersang. Setelah introspeksi, dia tak jua mendapat jalan keluar. Pergilah Syafii ke gurunya Imam Waqi, “Coba ingat-ingat, adakah barang yang syubhat masuk perutmu?” nasihat sang guru.
Benar, ternyata dia sebelumnya menemukan buah di tepi sungai. Lalu untuk menghalalkan buah, Imam Syafii mencari pemiliknya. Setelah itu otaknya kembali cemerlang.
Begitulah sikap ulama akhirat. Dari ragu ke yakin! Al ilmu nur (ilmu adalah cahaya). Keyakinan itulah yg menjadi energi. Ketika mental down maka fisik pun ambruk. Akal tidak sehat hati pun sakit. Hati yang sakit adalah yang cinta dunia. Bahagialah orang-orang yang disibukkan dengan ibadah, serasa surga (balasannya) itu kontan!
Ulama akhirat bukanlah ulama yang ada di alam baka, tapi ulama yang lebih cinta akhirat. Ulama yang tidak tertipu, ulama yang meyakini dunia ini ibarat transit, ulama yang membimbing kita dari cinta dunia kepada zuhud, wal akhiratu khairu wa abqo (karena akhirat itu lebih baik dan lebih kekal)
Hati-hatilah dengan hawa nafsu. Karena nafsu bisa mengelincirkan. Hanya satu pertanyaan pada ahli neraka; “Apakah pernah datang utusan?” Mereka menjawab. “Iya tapi kami ikuti hawa nafsu.”
Imam Ghazali mengatakan, “Bahagialah orang yang menjadikan akal dan hatinya sebagai raja dan hawa nafsu sebagai tawanan celakalah orang yang sebaliknya, yaitu menjadikan hawa nafsu sebagai raja.”
Karena itu menurut Ghazali, kita wajib mencari ulama akhirat. Ucapan ini menjadi hidup kembali di masa hedonism dan materialism menguat seperti sekarang ini.
“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (Wali Mursyid)” (QS al Kahfi [18]: 17)
sumber:http://www.sabili.co.id/oase/tafakur/item/429-cahaya-yang-menuntun.html
Menuntut ilmu harus hati-hati karena ilmu pada hakikatnya adalah
cahaya Allah SWT. Terbitnya cahaya Allah adalah di hati. Itulah kenapa
terjadi perkelahian pelajar, penegak hukum melanggar hukum, pakar ilmu
tata negara malah mengacak-acak negara. Orang justru malah melakukan
pelanggaran dari ilmu yang diperolehnya. Seharusnya tambah ilmu tambah
cahayanya. Karena menuntut ilmu bukan karena Allah SWT.Bertambahnya cahaya (kebaikan) hanya diperoleh oleh orang yang memiliki niat, proses sampai ujungnya benar. Hormat pada guru adalah bagian dari proses itu. Seperti kisah Imam Syafii yang tiba-tiba merasa otaknya jadi butek, jadi lalai, hati gersang. Setelah introspeksi, dia tak jua mendapat jalan keluar. Pergilah Syafii ke gurunya Imam Waqi, “Coba ingat-ingat, adakah barang yang syubhat masuk perutmu?” nasihat sang guru.
Benar, ternyata dia sebelumnya menemukan buah di tepi sungai. Lalu untuk menghalalkan buah, Imam Syafii mencari pemiliknya. Setelah itu otaknya kembali cemerlang.
Begitulah sikap ulama akhirat. Dari ragu ke yakin! Al ilmu nur (ilmu adalah cahaya). Keyakinan itulah yg menjadi energi. Ketika mental down maka fisik pun ambruk. Akal tidak sehat hati pun sakit. Hati yang sakit adalah yang cinta dunia. Bahagialah orang-orang yang disibukkan dengan ibadah, serasa surga (balasannya) itu kontan!
Ulama akhirat bukanlah ulama yang ada di alam baka, tapi ulama yang lebih cinta akhirat. Ulama yang tidak tertipu, ulama yang meyakini dunia ini ibarat transit, ulama yang membimbing kita dari cinta dunia kepada zuhud, wal akhiratu khairu wa abqo (karena akhirat itu lebih baik dan lebih kekal)
Hati-hatilah dengan hawa nafsu. Karena nafsu bisa mengelincirkan. Hanya satu pertanyaan pada ahli neraka; “Apakah pernah datang utusan?” Mereka menjawab. “Iya tapi kami ikuti hawa nafsu.”
Imam Ghazali mengatakan, “Bahagialah orang yang menjadikan akal dan hatinya sebagai raja dan hawa nafsu sebagai tawanan celakalah orang yang sebaliknya, yaitu menjadikan hawa nafsu sebagai raja.”
Karena itu menurut Ghazali, kita wajib mencari ulama akhirat. Ucapan ini menjadi hidup kembali di masa hedonism dan materialism menguat seperti sekarang ini.
“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (Wali Mursyid)” (QS al Kahfi [18]: 17)
sumber:http://www.sabili.co.id/oase/tafakur/item/429-cahaya-yang-menuntun.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar