Rabu, 24 Juli 2013

ramadhan


Ramadan selalu memberikan kesan indah, penuh pesona dan selalu menggores kenangan. Apalagi jika dipandang dari sudut keimanan. Lihatlah tubuh-tubuh yang secara fisik tampak lemah, namun kekuatan ruhani ketakwaan begitu tampak memancar di balik tatapan wajahnya. Lihat pula kaki-kaki yang mantap berjalan beriringan menuju masjid-masjid untuk mempersembahkan ketundukannya kepada sang Khaliq. Perhatikanlah wajah-wajah cerah dan ceria sesaat sebelum berbuka, keceriaan karena telah menunaikan kewajibannya lebih mendahului keceriaan menghadapi hidangan yang akan disantap. 

Namun, Ramadhan bukanlah drama satu babak yang selesai begitu saja sebagai cerita yang patut dikenang seiring dengan kepergiannya. Memahami Ramadan seperti ini, tak ubahnya sebuah panggung gembira di sebuah tanah lapang yang hiruk pikuk dengan sorak sorai dan tawa riang, namun keesokan harinya, setelah panggung itu ditutup dan dirobohkan, yang ada hanya tanah lapang yang lengang, sunyi senyap, tak ada lagi sorak sorai dan tawa riang.

Ramadan –begitulah setidaknya dari pesan yang dapat kita tangkap- sesungguhnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari episode-episode kehidupan ini dengan kita sebagai pemeran utama di dalamnya. Bagaikan sebuah drama seri, dia tidak menjadi lengkap dan indah sebagai sebuah cerita manakala episode-episode berikutnya tidak nyambung dan tidak seirama. Peran-peran yang telah ditampilkan dalam 'episode' Ramadhan sangat mudah ditangkap dan dipraktekkan, bahkan kita telah sama-sama telah ikut memerankannya. Kini, setelah Ramadhan berlalu, kita tinggal meneruskan peran-peran tersebut, agar kisah ini terangkai dengan indah dan mempesona. Berilah judul-judul indah dan menarik agar memotivasi kita meneruskan kebajikan-kebajikan yang telah kita semai dalam 'episode' Ramadhan. Kalau anda belum mendapatkannya, saya dapat membantu mencarikannya berikut ini;

Ikhlash, Tangga Pertama Meraih Bahagia

Keikhlasan menjadi salah satu fokus dari ibadah di bulan Ramadhan. Perhatikanlah keutamaan berpuasa dan beribadah di malam hari Ramadhan, keduanya disyaratkan dilakukan dengan iman dan semata mengharap pahala dari Allah Ta'ala. Maka, jika puasa menjanjikan dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa; bahagia saat dia berbuka, dan bahagia saat dia berjumpa dengan Tuhannya, keikhlasan jelas menjadi tangga pertama yang harus dia tapaki. 

Di sisi lain, keikhlasan erat kaitannya dalam upaya kita untuk mengurangi ketergantungan terhadap dunia yang secara teoritis maupun praktis sering menjadi sebab kegagalan meraih kebahagiaan. Karena tabi'at dunia adalah punah, rusak, layu dan membosankan, sehingga otomatis orang yang hidup bergantung kepadanya pun akan mendapatkan hal-hal serupa. Sedangkan sifat Allah Ta'ala adalah kekal, kuat, kokoh dan indah. Maka orang yang ikhlas kepada-Nya akan bahagia, karena sifat-sifat tersebut berbanding lurus dengan kebahagiaan. 

Oleh karena itu, lanjutkanlah peran tersebut. Wujudkan keikhlasan dalam setiap aktifitas kita, dalam shalat, puasa, mencari nafkah, mempergauli keluarga, berteman dll. Insya Allah, kunci kebahagiaan telah kita genggam. 

"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik" (QS. An-Nahl: 97)

Ramadhan Yang Mempesona

Kamis, 18 Juli 2013

Menjawab Tuduhan Penginjil A. Ahmad Hizbullah MAG




[www.ahmad-hizbullah.com] Setelah menuduh Nabi Muhammad mencontek Bibel, website kristenisasi berkedok Islam www.####quran.com melecehkan syariat poligami. Dalam artikel berjudul “Apakah Poligami adalah Asli Hukum Tuhan?” Penginjil Suwignyo menuduh Rasulullah SAW mencederai fitrah manusia, kekudusan, hati nurani dan naluri manusiawi dengan mengajarkan poligami. Terhadap surat An-Nisa’ 3, Suwignyo berkomentar: “Adakah poligami yang terasa mulia dan luhur ke batin terdalam dari manusia? Poligami memang bukan fitrah pernikahan kudus, mulia, saling kasih-setia yang Tuhan design-kan sejak semula bagi kerinduan naluri kemanusiaan, khususnya bagi pasangan suami-istri itu sendiri! Tetapi di luar kenalurian, Muhammad memperkenalkan sesuatu yang berbeda.” Kepada para mufassir Al-Qur'an yang memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu, Suwignyo melontarkan pertanyaan yang menurutnya tidak bisa dijawab: “Baiklah kita jeli untuk bertanya balik kepada para ulama yang getol poligami, dalam dua hal sederhana: Dikatakan poligami sudah ada sejak dulu. Sejak kapankah itu berawal mula? Sejak Adam? Habil dan Qabil? Nuh? Ibrahim?” Suwignyo menjawab sendiri pertanyaan itu dengan apologi syakwasangka bahwa ulama Islam tidak ada yang bisa menjawabnya: “Ternyata tak ada ulama Islam yang mampu menjawab kedua pertanyaan sederhana itu. Dan kalau itu mau dicarikan dari Alkitab, maka tidak akan ditemukan ayat suci di seluruh Taurat, Zabur, Injil dan Kitab segala nabi Israel di mana Tuhan ada menurunkan hukum berpoligami! Juga Nabi Nuh justru selalu hidup dengan seorang istri di sepanjang umurnya yang hampir satu millennium. Jadi sejak kapan ulama Muslim bisa berkata bahwa poligami dilegalkan oleh Tuhan dari surga-Nya?” Tuduhan ini sangat gegabah dan tidak berdasar, hanya mempermalukan kekristenan dan memamerkan keawamannya terhadap agama. Pertama, Suwignyo bertanya sejak kapankah itu berawal mula? Sejak Adam, Habil dan Qabil, Nuh atau Ibrahim? Pertanyaan ini tidak perlu dilontarkan bila ia memahami kandungan kitab sucinya. Perjanjian Lama secara kasat mata menjelaskan bahwa sejarah poligami pertama kali dalam Bibel dipraktikkan oleh Lamekh (Kejadian 4:17-19). Lamekh adalah keturunan Nabi Adam melalui Kain (Qabil). Adam masih hidup bersama Lamekh sekurang-kurangnya selama 50 tahun. Saat Lamekh berusia 182 tahun, lahirlah Nuh. Lamekh meninggal pada usia 777 tahun saat Nuh berusia 595 tahun. Jika poligami adalah sebuah dosa, pidana atau maksiat, mestinya Nabi Nuh mengecam poligami ayahnya. Tapi tak ada satu ayat pun yang memuat kecaman Nabi Nuh terhadap poligami ayahnya. Kedua, Suwignyo membangga-banggakan Bibel yang menurutnya tidak mentolerir poligami, dan tidak memuat satu ayat pun tentang hukum poligami. Jika bisa membaca dengan baik, mestinya pernyataan ini tidak dilontarkan. Karena kitab Taurat dalam Bibel terang-terangan mengatur hukum poligami hingga ahli warisnya. Dalam Ulangan 25:5 disebutkan, bila seorang suami meninggal, maka sang istri harus dinikahi oleh saudara laki-laki sang suami. Perkawinan antara janda dengan adik ipar ini disebut Kewajiban Perkawinan Ipar oleh Alkitab. Jika saudara ipar itu sudah mempunyai istri, maka otomatis ia harus memoligami janda iparnya. Jika saudara ipar itu menolak menikahi janda ipar dengan alasan tidak suka, maka dia harus dihukum oleh para tua-tua dengan diludahi mukanya (Ulangan 25:9). Sebelumnya, dalam kitab Ulangan 21:15-17 dan Keluaran 21:10 dijelaskan beberapa aturan hukum beristri lebih dari satu. Ini adalah bukti nyata bahwa Alkitab tidak melarang poligami, tetapi mengatur hak, kewajiban dan warisan yang berhubungan dengan poligami, sesuai dengan zaman yang berlaku pada masa itu. Ketiga, setelah yakin bahwa tidak ada satu nas pun yang menyatakan firman Tuhan tentang poligami, Suwignyo kembali bertanya: sejak kapan ulama Muslim bisa berkata bahwa poligami dilegalkan oleh Tuhan dari surga-Nya? Umat Islam meyakini syariat poligami sesuai firman Allah SWT dalam Al-Qur'an dalam surat An-Nisa’ ayat 3 yang secara tegas memuat nas: “...Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja...” Poligami dalam Islam bukan mewajibkan kaum pria untuk menikahi banyak wanita, tapi mengatur poligami agar tidak liar tanpa batasan dan etika. Islam menitikberatkan pada pengaturan batasan jumlah kepemilikan istri lebih dari satu oleh seorang suami. Islam adalah satu-satunya kitab suci yang berani mengeluarkan perintah “fawahidah!” (maka nikahilah seorang saja). Jadi, Al-Qur'an adalah pahlawan moral yang membebaskan manusia dari poligami tanpa batas dan aturan. Dalam praktik di masyarakat, banyak masalah yang hanya bisa diselesaikan dengan poligami. Misalnya, istri seorang pendeta dilarang berhubungan sebadan dengan sang suami karena pertimbangan medis terkait suatu penyakit dan ketidakmampuan fisik. Jika sang istri melakukan hubungan badan, maka bisa berakibat fatal pada nyawanya. Dalam kondisi ini, jika poligami diharamkan, maka sang pendeta akan tersiksa seumur hidup, karena sebagai manusia normal ia butuh penyaluran libido. Ia juga mengidam-idamkan anak keturunan untuk penerus generasi. Haruskah sang pendeta menahan gejolak naluri jasmani seumur hidupnya demi menghindari praktik poligami? Maukah sang pendeta harus dikebiri supaya tidak diganggu oleh gejolak penyaluran kebutuhan jasmani? Duh, kasihan sekali!! Kasus-kasus seperti ini tidak bisa diselesaikan oleh kitab-kitab suci selain Al-Qur'an. Maka pengaturan dan penghalalan praktik poligami dalam Islam sangat dibutuhkan oleh manusia. Dunia harus berterima kasih kepada Al-Qur'an karena keberaniannya membolehkan, membatasi dan mengatur praktik poligami, demi kemaslahatan manusia. Jadi, syariat poligami sangat sesuai dengan fitrah manusia. Demi Antipoligami, Penginjil Menghujat Para Nabi Dengan dendam antipoligami, Penginjil Suwignyo tidak hanya menghina Nabi Muhammad, tapi juga melecehkan para nabi Bani Israel yang dikisahkan dalam Bibel sendiri. Ia menuduh para nabi Bani Israel itu sebagai pendosa karena melakukan poligami, dengan tulisan sbb: “Ada sejumlah Nabi yang berpoligami, itu mereka lakukan bukan karena ada ayat pembatalan terhadap design dan fitrah hubungan suami-istri dari Tuhan yang menjadi dasar hukum bagi hidup Monogami, melainkan karena dosa dan kekerasan hati mereka masing-masing yang dipaksakan oleh nafsu kedagingan sendiri. Nabi tetaplah manusia yang lemah dan berdosa. Semuanya ada kekerasan hati, nafsu, kefasikan dan kedegilan.” Lagi-lagi, Penginjil Suwignyo mempertontonkan kecerobohan teologi, dengan menghakimi para nabi Bani Israel yang berpoligami sebagai pelaku dosa dan fasik yang mengidap penyakit hati dana nafsu angkara. Begitu bencinya terhadap syariat poligami, sampai-sampai harus menghakimi para nabi leluhur Yesus sebagai manusia pendosa yang fasik. Padahal, logikanya, kalau poligami adalah sesuatu yang dilarang Tuhan, pasti ada ayat yang menyatakan pelarangan sebagaimana larangan-larangan yang lainnya. Faktanya, Nabi Ibrahim (Abraham) punya dua istri yaitu Sara (Kejadian 11:29-31) dan Hagar (Kejadian 16) serta seorang gundik bernama Kentura (Kejadian 24:1). Semua agama mengakuinya sebagai “bapak rohani” (abul anbiya’) meski berpoligami. Nabi Yakub memoligami empat wanita yang masih memiliki hubungan darah yaitu Lea, Rahel, Bilha dan Zilpa (Kejadian 29:31-32, 30:34, 30:39). Yakub yang berpoligami dan menghasilkan 12 keturunan bangsa Yahudi ini tidak dibenci Tuhan sebagai pendosa. Bahkan Tuhan menyayangi dan memberkatinya sebagai nabi diberkati yang berada dalam Kerajaan Sorga bersama dengan Abraham, Ishak dan semua nabi Allah (Matius 8:11, Lukas 13:28). Semasa hidupnya, Allah telah menampakkan diri kepada Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa (Keluaran 6:2) dan menjanjikan untuk memberikan sebuah negeri kepada keturunan Yakub (Keluaran 33:1). Daud kawin dengan banyak perempuan (I Samuel 25:43-44, 27:3, 30:5, II Samuel 3:1-5), di antaranya adalah Ahinoam, Abigail, Maacha, Hadjit, Edjla, Michal dan Batsyeba (II Samuel 16:22). Meski Nabi Daud mengoleksi banyak istri dan gundik, tapi Tuhan dalam Bibel tidak memurkainya sebagai seorang pendosa, bahkan Tuhan memberikan award kepadanya dengan julukan “nabi yang taat kepada Tuhan dan berkenan di hati-Nya” (Kisah Para Rasul 13:22). Salomo alias Sulaiman dikisahkan Bibel sebagai nabi superpoligami yang mengoleksi 700 istri dan 300 gundik (I Raja-raja 11:3). Tapi Tuhan tidak mencelanya sebagai pendosa yang fasik. Bahkan Tuhan menyebut Salomo sebagai orang benar yang dicintai Tuhan dan diberi gelar “anak Tuhan” yang sudah dipilih Tuhan sejak bayi untuk menjadi hamba-Nya yang akan mendiri¬kan Bait Allah (1 Tawarikh 22:9-10). Nabi Lot (Luth) memoligami dua kakak beradik hingga beranak-pinak, tapi Tuhan tetap memuji Lot sebagai orang yang benar dan taat kepada Tuhan (II Petrus 2:7). Nabi Daud, Abraham, Yakub dan Salomo telah memelopori praktik poligami dalam Bibel. Tapi tak satu ayat pun yang mengecam maupun menilai tindakan mereka sebagai dosa. Hanya penginjil Suwignyo cs yang berani melecehkan para nabi sebagai pendosa yang fasik dan berpenyakit hati. Bukalah hatimu, jangan membabi buta dan menutup hati nurani untuk mengingkari kebenaran yang hakiki. Hanya orang stress atau orang sesat saja yang sangat berani menuduh para nabi yang dimuliakan Tuhan sebagai pendosa. []: Semua Nabi Berdosa karena Berpoligami?
sumber:http://www.suara-islam.com/read/index/7192/Menjawab-Tuduhan-Penginjil---Semua-Nabi-Berdosa-karena-Berpoligami-

Sabtu, 13 Juli 2013

Cahaya yang Menuntun


Al Wara, menurut pengertian terminologis artinya, menahan diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan mudharat lalu menyeretnya kepada hal-hal yang haram dan syubhat, karena subhat ini dapat menimbulkan mudharat. Sesungguhnya, siapa yang takut kepada syubhat maka dia telah membebaskan kehormatan dan agamanya. Siapa yang berada dalam syubhat dikhawatirkan berada dalam hal yang haram, seperti penggembala di sekitar tanaman yang dijaga, yang begitu cepat dia masuk ke dalamnya.

Menuntut ilmu harus hati-hati karena ilmu pada hakikatnya adalah cahaya Allah SWT. Terbitnya cahaya Allah adalah di hati. Itulah kenapa terjadi perkelahian pelajar, penegak hukum melanggar hukum, pakar ilmu tata negara malah mengacak-acak negara. Orang justru malah melakukan pelanggaran dari ilmu yang diperolehnya. Seharusnya tambah ilmu tambah cahayanya. Karena menuntut ilmu bukan karena Allah SWT.

Bertambahnya cahaya (kebaikan) hanya diperoleh oleh orang yang memiliki niat, proses sampai ujungnya benar. Hormat pada guru adalah bagian dari proses itu. Seperti kisah Imam Syafii yang tiba-tiba merasa otaknya jadi butek, jadi lalai, hati gersang. Setelah introspeksi, dia tak jua mendapat jalan keluar. Pergilah Syafii ke gurunya Imam Waqi, “Coba ingat-ingat, adakah barang yang syubhat masuk perutmu?” nasihat sang guru.

Benar, ternyata dia sebelumnya menemukan buah di tepi sungai. Lalu untuk menghalalkan buah, Imam Syafii mencari pemiliknya. Setelah itu otaknya kembali cemerlang.
Begitulah sikap ulama akhirat. Dari ragu ke yakin! Al ilmu nur (ilmu adalah cahaya). Keyakinan itulah yg menjadi energi. Ketika mental down maka fisik pun ambruk. Akal tidak sehat hati pun sakit. Hati yang sakit adalah yang cinta dunia. Bahagialah orang-orang yang disibukkan dengan ibadah, serasa surga (balasannya) itu kontan!

Ulama akhirat bukanlah ulama yang ada di alam baka, tapi ulama yang lebih cinta akhirat. Ulama yang tidak tertipu, ulama yang meyakini dunia ini ibarat transit, ulama yang membimbing kita dari cinta dunia kepada zuhud, wal akhiratu khairu wa abqo (karena akhirat itu lebih baik dan lebih kekal)

Hati-hatilah dengan hawa nafsu. Karena nafsu bisa mengelincirkan. Hanya satu pertanyaan pada ahli neraka; “Apakah pernah datang utusan?” Mereka menjawab. “Iya tapi kami ikuti hawa nafsu.”

Imam Ghazali mengatakan, “Bahagialah orang yang menjadikan akal dan hatinya sebagai raja dan hawa nafsu sebagai tawanan celakalah orang yang sebaliknya, yaitu menjadikan hawa nafsu sebagai raja.”

Karena itu menurut Ghazali, kita wajib mencari ulama akhirat. Ucapan ini menjadi hidup kembali di masa hedonism dan materialism menguat seperti sekarang ini. 

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (Wali Mursyid)” (QS al Kahfi [18]: 17)
sumber:http://www.sabili.co.id/oase/tafakur/item/429-cahaya-yang-menuntun.html

Senin, 01 Juli 2013

Sambut Ramadhan 1434 H dengan Penuh Semangat



Kaum muslimin rahimakumullah,Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al Baqarah 185).

Kaum muslimin rahimakumullah,

Bulan Ramadhan segera tiba. Sudah semestinya kita menyambutnya penuh bahagia. Sebab, Ramadhan berbeda dari bulan-bulan lain. Bulan Ramadhan adalah bulan paling agung dan istimewa. Bulan yang di dalamnya ada malam yang paling istimewa, yakni lailatul qadar, malam kemuliaan yang lebih baik daripada seribu bulan. Bulan penggemblengan umat Islam dengan kewajiban shiyam Ramadhan sebulan penuh di siang hari dan shalat sunnah tarawih setiap malam. Bulan yang disunnahkan kita memperbanyak tilawah dan tadaarus Al Quran, kabarnya Rasulullah saw. sendiri dicek kembali bacaan Al Quran beliau saw. di hadapan Jibril a.s.

Marhaban Ya Ramadhan! Selamat datang wahai bulan shiyam!

Kaum muslimin rahimakumullah,

Diriwayatkan dalam Sahih Ibnu Khuzaimah bahwa Rasulullah saw. berpidato di malam menjelang Ramadhan, sebagai berikut:

“Wahai manusia! Kini telah dekat kepada kalian satu bulan agung, bulan yang sarat dengan berkah. Juga, bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik ketimbang seribu bulan. Inilah bulan yang Allah telah menetapkan puasa pada siang harinya sebagai kewajiban dan shalat tarawih di malam harinya sebagai shalat sunnah. Siapa saja ingin mendekatkan diri kepada Allah di bulan ini dengan suatu amal sunnah, maka pahalanya seolah dia mengamalkan amal wajib pada bulan lain. Dan, siapa saja melakukan amal wajib di bulan ini, dia akan dibalas dengan pahala seolah telah mengamalkan tujuh puluh amal wajib pada bulan lain.

Inilah bulan kesabaran dan imbalan atas kesabaran adalah surga. Inilah bulan simpati terhadap sesama. Pada bulan inilah rezeki orang-orang yang beriman ditingkatkan. Barang siapa memberi makan (untuk berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan balasan ampunan atas dosa-dosanya dan pembebasan dari Neraka Jahannam. Selain itu, ia juga memperoleh ganjaran yang sama sebagaimana ganjaran yang dikaruniakan atas orang yang berpuasa tersebut; tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang yang berpuasa itu!”

Kaum muslimin rahimakumullah,

Sejenak Rasulullah Saw. berhenti berpidato. Tiba-tiba seseorang di antara mereka mengeluh kepada beliau, “Wahai Rasul! Tidak semua di antara kami memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada orang yang sedang berpuasa untuk berbuka!”

Rasulullah saw. menjawab :

“Allah akan mengaruniakan balasan ini kepada seseorang yang memberi buka walau hanya dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu. Inilah bulan yang pada sepuluh pertamanya Allah menurunkan rahmat, sepuluh hari pertengahannya Allah memberikan ampunan, dan sepuluh hari yang terakhir Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka Jahannam. Siapa saja yang meringankan beban hamba sahayanya pada bulan ini, Allah Swt. akan mengampuninya dan membebaskannya dari neraka.

Perbanyaklah di bulan ini dengan empat hal. Dua hal bisa mendatangkan keridhaan Tuhan kalian, dan yang dua lagi kalian pasti memerlukannya. Dua hal yang mendatangkan keridhaan Allah ialah hendaknya kalian mengucapkan syahadat (persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah) dan istighfâr (permohonan ampun kepada-Nya) sebanyak-banyaknya. Sedangkan dua hal yang kalian pasti memerlukannya ialah hendaknya kalian memohon kepada-Nya untuk masuk surga dan berlindung kepadanya dari neraka Jahannam. Dan, barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa (untuk berbuka), Allah akan memberinya minuman dari telagaku yang dengan sekali teguk saja ia tak kan pernah kehausan lagi hingga ia memasuki surga!”

Kaum muslimin rahimakumullah,

Pidato Rasulullah Saw. itu menunjukkan, dalam shaum Ramadhan terkandung pesan moral yang amat kuat. Sedemikian kuatnya, hingga rukun Islam ketiga ini bukan saja menyeru pada panggilan kewajiban ibadah semata. Tapi, lebih jauh lagi, seruan moral itu menyeruak masuk ke wilayah-wilayah pribadi yang bersifat individual dan psikologis. Malah, ke wilayah sosial, politik, ekonomi, dan kultural. Dan, tujuan seruan itu pun amat mulia dan asli serta diajarkan lewat media yang paling efektif. Yaitu, kesabaran, persaudaraan, dan solidaritas terhadap sesama manusia yang diajarkan secara langsung lewat laku “ merasakan penderitaan” fisik pada diri setiap Muslim. Di ujung pelajaran itu diharapkan terjadi pencerahan bahwa pengendalian diri dengan tetap berpegang teguh kepada ajaran Allah SWT tentang halal haram adalah “sebaik-baik perhiasan” dalam menghadapi segala keruwetan dan kesumpekan hidup sehari-hari.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Hakikat shaum adalah merasakan ibadah dan pengawasan Allah SWT dalam keseharian kita yang seharusnya merupakan ketaatan kita kepada Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan. Ketika ada orang mengajak bertengkar, kita diminta oleh Rasulullah saw. menolaknya dengan mengatakan bahwa kita sedang berpuasa, sedang beribadah kepada Allah SWT dan sedang diawasi dan dinilai oleh-Nya. Perintah Rasulullah saw. agar kita mengatakan bahwa kita berpuasa itu berlaku untuk orang yang hendak menyuap kita sebagai penguasa, mengajak korupsi, mengajak nyolong, mengajak zina, mengajak homo dan lesbi, mengajak minum miras, mengajak berjudi, dan mengajak apa saja yang melanggar hukum syariat Allah SWT.

Dengan penuh semangat, mari kita siapkan diri untuk memasuki ibadah shiyam dan qiyam Ramadhan 1434H dengan dasar keimanan dan penuh kesungguhan untuk menggapai ridlo dan ampunan Allah SWT. Dan dengan pelatihan Shiyam Ramadhan kita tancapkan tonggak perjuangan wujudkan NKRI Bersyariah untuk menjalankan seluruh syariat Islam secara kaffah di NKRI sebagai aturan formal konstitusional dengan dasar keimanan dan kesungguhan untuk menggapai ridlo Allah SWT yang berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِين

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al Baqarah 208).

Baarakallahu lii walakum…..