Selasa, 26 Juli 2016

Paling dimurkai Allah


Berbagai upaya kita tempuh untuk selamat dunia akhirat.beragam pintu  takwa kita lalui agar terhindar dari azab Allah,antara lain berusaha menjadi ofang yang paling dicintai Allah SWT ,bukan orang yang dibenciNya .Rasullah SAW menggambarkan dalam sebuah hadits " Manusia yang paling dimurkai Allah adalah penentang palingkeras "(HR. Bukhari)
Bagi para penentangagama Allah,kebenaran tak lagi berguna .karena hobi dan hasrat hatinya sudah berambisi melawan aturan ilahi. Segala hujah dibantahnya agarsesuai dengan rasio. argumentasi untuk menentang syariat allah tak pernah kering ,kalau perlu seradikal dan seliberal mungkin.golongan yang paling dibenci  ini sangat berbahaya karena mereka pandai bersilat lidah dan pena. 
" Dan di antara ada manusia ada orang yang ucapanya tentang dunia menarik hatimu, dan di persaksikanya kepada Allah( atas kebenaran) isi hatinya padahal ia adalah penentang paling keras "(QS .Al-Baqarah)
Segala kebatilan di hias seindah mungkin supaya tampak sebuah kebenaran. sebaliknya di buat kesan buruk segala yang haq dan berbagai wasilah dan media. Tak hetsn, jika penentang Allah sangat radikal ini berbicara ,retorikanya sangat memukau khalayak . padahal inti yang terselubung di balik keindahan itu adalah kebatilan yang busuk. Mulutnya lebih indah dari madu tapi hatinya lebih pahit dari pada empedu. Tak jarang memakai label islam untuk menipu umat bagaikan serigala berbulu domba. Retorikanya mulutnya mulutnya di poles dengan istilah aneh supaya terdengar manis damai dan intelek ,pada hal hatinya penuh duri ,kuku taringnya yang siap menggoyak kebenaran ilahi.
Ucapan mereka dusta perbuatan mereka jahat ,akidahnya rusak seluruh amal jahat ,semakin sombong semakin berbuat dosa
" Dan apabila dikatakan kepadanya : bertakwalah kepada Allah ,bangkitlah kesombonganya yang menyebabkanya  berbuat dosa. Maka cukupkanlah (balasanya) neraka jahanam. Dan sungguh neraka jahanam tempat tinggal yang seburuk buruknya"(Qs. Al baqarah 206)
Nasihat didepan hidungnya justru membuat mereka sombong ,marah dan bangga dengan lumpur dosa yang telah dilakukanya.
Maka bersahabat dan berakrab dengan mereka tidak ada maslahatnya. Demi kebaikan agar tidak terkontaminasi milah mereka , sikap yang paling aman adalah menghindari mereka. Karena Allah menegaskan bahwa salah satu dari karakteriatik orang beriman adalah tidak saling berkasih sayang kepada para penentang Allah dan Rasul-Nya (Al mujidilah 22)
Manusia yang paling beruntung adalah orang yang tidak salah dalam pergaulan. Persahabatan yang aman dan shahih mengutamakan agama dan takwa. Mereka  mencintai Allah dan membenci orang yang di benci Allah. Karena hakikat ukhuwah ( persaudaraan) islam adalah atas dasar keimanan.
Ingat, jangan menyesal berkawan dengan para penentang Allah karena teman bisa memjerumuskan ke neraka. Sebab penyesalan di akhirat tiada guna.
"Kecelakaan besarlah bagiku ; aduhai kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi  teman akrab(ku)" (Qs.Al Furqanb 28) .
Perilaku maksiat bisa tertular dari teman. Hati-hati dalam memilih teman. Pinghirkan orang-orang yang liberal dan radikal dalam menentang Allah dan rasul-Nya dari memori perkariban .
Abu suninah

Sumber: majalah Tabligh Vol. 02/No. 09/April 2004 - Shafar 1425

Senin, 08 Februari 2016

Sejarah Rahasia Freemasonry dan Iluminati (12)

Seperti film Origins The Da Vinci Code[1] yang secara detil memuat proses kelahiran buku The Holy Blood and the Holy Grail, kita juga akan menengok terlebih dahulu sebuah desa di sebelah timur kaki gunung Pyrenees, di selatan Perancis, bernama Rennes-le-Château. Sebuah desa yang asri dan penuh aroma mistis, yang kemudian menjadi begitu terkenal setelah The Holy Blood and the Holy Grail terbit. Sampai sekarang, tak kurang dari 500 judul buku tentang Rennes-le-Château yang telah terbit. Angka ini terus bertambah.

MISTERI DI SELATAN PERANCIS

Tidaklah terlalu sulit jika Anda ingin ke Desa Rennes-le-Château. Dari Paris, tataplah matahari yang bersinar pada siang hari bolong, lalu berjalanlah lurus ke selatan, mengikuti garis bujur, melewati Burgundy, Saint Philibert de Tournus, Sungai Rheine, Vienne dan katedralnya di mana pada tahun 1312 di tempat itu berawal gerakan penumpasan terhadap Ksatria Templar, lewat Carcassonne, terus berjalan ke selatan hingga Limoux dan Lembah aude, melewati Kastil Kathari yang terkenal dalam peristiwa Perang Salib Albigensian, menyusuri jalan yang diapit pegunungan Pyrennes, dan tibalah di sebuah dataran tinggi, Rennes Le Château.

Perjalanan dari Paris ke desa ini bagaikan sebuah perjalanan sejarah, napak tilas, dari sejarah Eropa di abad pertengahan. Semua kisah dan misteri berawal dari desa ini, namun entah mengapa, Dan Brown sama sekali tidak menyinggung nama desa ini secuil pun dalam novel The Da Vinci Code.

Di Rennes-le-Château yang masuk dalam wilayah Languedoc, sudah sejak lama berdiri sebuah gereja kecil dan sederhana yang dipersembahkan kepada Maria Magdalena. Konon, gereja ini sudah ada sejak zaman Visigoth pada abad ke-6 Masehi. Beberapa mil di tenggara Rennes-le-Château, berdiri sebuah puncak gunung yang oleh masyarakat sekitar dikenal sebagai Bézu. Di puncak gunung tersebut, berserakan puing-puing benteng abad pertengahan.

Menurut sejarah, lokasi tersebut pernah dijadikan salah satu kuil Ksatria Templar yang menyelamatkan diri dari kejaran pasukannya Phillipe le Bel dan Paus Clement V. Dan konon, tiap tahun pada tanggal-tanggal menjelang 13 Oktober, hantu-hantu para Templar berkeliaran di sekitar perbentengan tersebut. Puncak Bézu memang menyeramkan dilihat dari kejauhan, bagai panic raksasa  terbalik di tengah bukit. Ini cerita warga sekitar yang menyebar dari mulut ke mulut. Kebenarannya tidak ada yang tahu.

Satu mil ke timur laut Rennes-le-Château, pada puncak lainnya, berdiri sisa-sisa puri Blanchefort, sebuah rumah leluhur Bertrand de Blanchefort, seorang Grand Master ke-4 Ksatria Templar. Sejak berabad-abad silam, daerah itu sudah menjadi rute perjalanan para peziarah yang terbentang dari Eropa Timur hingga Santiago de Compastela di Spanyol. Sebuah wilayah yang dipenuhi aroma mistis, legenda, mitos, dan juga bau darah.

Para peziarah Eropa Utara dan Timur sejak dulu selalu melalui wilayah ini sebelum mereka berlayar menuju Jaffa, kota pelabuhan di tanah Palestina, setelah melintasi Laut Tengah melewati perairan utara Tunisia, Pulau Sardinia dan Sisilia di selatan Itali, dan Malta, menuju Kota Suci Yerusalem.

Kisah tentang desa kecil namun aneh ini selalu berawal dari kedatangan Pastur Francois Bérenger Sauniére[2] (1852-1917), seorang Pastur muda berusia 33 tahun[3] yang berasal dari Desa Montazels, sekitar tiga kilometer dari Rennes le Château. Bérenger Sauniére menjejakkan kakinya pertama kali di desa ini pada hari Senin, 1 Juni 1889. Holy Blood, Holy Grail tidak menjelaskan secara detil latar belakang kehidupan Pastur Bérenger Sauniére. Namun sebuah film dokumenter yang diproduksi oleh Katana Production (Perancis, 2002) berjudul Rennes-Le-Château du trésor au vertige (Keajaiban Harta Karun Rennes le Chateau)[4] menyibak lebih dalam awal kehidupan Pastur muda tersebut.

Pada tahun 1850, di Desa Montazels yang berada di depan Desa Rennes le Château, di satu persimpangan tinggallah keluarga Sauniére. Sang ayah bekerja sebagai pengurus Marques de Castel majou, sebuah kastil besar di ujung desa. Sedang ibunya berasal dari keluarga terpandang. Oleh kedua orangtuanya, dua bersaudara Afred dan Berenger, yang pintar dan ambisius, disekolahkan ke Seminari Carcassonne agar kelak menjadi pastur dan meneruskan tradisi kehormatan bagi keluarganya.

Setelah lulus, Berenger ditunjuk menjadi pastur di Desa Le Clat, yang berada agak jauh dari Montazels, namun masih berada di sekitar Rennes le Château. Tanah Desa Le Clat dimiliki oleh keluarga Hautpoul-Fellines. Setelah tiga tahun mengabdi di Le Clat, Berenger dipindahkan oleh atasannya, Uskup Carcassonne, ke Rennes le Château.

Di awal Juni 1885, Pastur Bérenger Sauniére datang Rennes le Château. Di daerah penggembalaan barunya ini, Sauniére awalnya tinggal di rumah milik keluarga Denarnaud. Sang puteri, Marie Denarnaud bekerja menjadi pelayan dari Sang Pastur. Kehidupan pastur itu terbilang cukup sederhana. Pendapatannya hanya enam poundsterling tiap tahun ditambah dengan kolekte sukarela dari jemaat gerejanya. Pastur Berenger Sauniére bersahabat dengan Pastur Henri Boudet dari desa tetangga, Rennes-le-Bains.

Beberapa bulan tinggal di desa itu, Sauniére mendapat masalah besar ketika dalam salah satu misa yang dipimpinnya, Pastur muda itu mengkhotbahkan suatu ajaran yang sangat anti-Republikan, padahal pada waktu itu pemilihan umum tengah berlangsung. Untuk sementara waktu Sauniére dibebastugaskan dari jabatannya. Ketika akhirnya dia dikembalikan kepada posisinya pada musim panas 1886, dia menerima hadiah sebesar 3.000 franc dari Countess de Chambord, janda seseorang yang mengklaim sebagai raja Perancis, King Henry de Bourbon yang mengaku bergelar Henry V, yang merasa berhutang budi karena Sauniére membela kaum monarkis. Pastur itu kemudian menggunakan uang tersebut untuk merenovasi gereja kecilnya yang sudah rusak di sana-sini.

Pada saat inilah pastur itu menemukan sejumlah perkamen yang memuat kode rahasia. Ini menurut Picknet dan Prince. Namun menurut Baigent, Leigh, dan Lincoln, dana untuk merenovasi gerejanya diperoleh Sauniére dengan meminjam dari kas desa.

Ketika membetulkan bagian atas sebuah pilar dekat mimbar, ia menemukan sebuah laci rahasia yang menyimpan sebuah dokumen. Dokumen itu menuntunnya untuk mencongkel sebuah batu setapak yang terletak di tengah gereja. Di bawah batu terdapat sebuah pot yang tertanam dan berat. Ketika dibuka, pot itu penuh berisi koin emas. Kepada para pekerja yang melihatnya,  Sauniére mengatakan bahwa itu merupakan medali dari Lourdes. Tapi banyak orang tidak percaya. Konon, koin emas itu sangat cukup untuk membangun desa tersebut menjadi desa yang makmur.

Setelah penemuan itu, Sauniére kembali menemukan empat lembar perkamen dari sebuah pilar bergaya Visigoth di dekat altar yang rencananya hendak dipindahkan. Pilar itu ternyata berongga. Empat lembar perkamen itu tersimpan di dalam sebuah tabung dari kayu. Perkamen-perkamen tersebut amat sulit dibaca karena susunan huruf-hurufnya tidak beraturan dan sekilas tidak ada arti. Tapi pendeta muda tersebut seorang yang cukup kritis. Ia meyakini, apa pun itu, temuannya itu pasti barang yang sangat berharga, sehingga membuat orang-orang menyimpannya rapat di sebuah tempat yang dirahasiakan. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

[1] ‘Origins The Da Vinci Code’ (Kelahiran The Da Vinci Code) merupakan sebuah film dokumenter yang mengisahkan perjalanan liburan seorang Henry Lincoln di sebuah desa terpencil di kaki gunung Pyrennes, Selatan Perancis, bernama Rennes-le-Château. Desa itu sejak berabad lalu memang dikenal karena kemisteriusan, legenda-legenda, dan aroma mistisnya. Suatu hari, saat berkunjung ke sebuah kedai buku kecil di desa itu, Lincoln tertarik pada sebuah buku sederhana berjudul ‘Le Tressor Maudit’. Buku kecil itu memuat teka-teki pencarian harta karun lengkap dengan legenda dan misterinya. Lincoln merasa ada sesuatu yang harus ditelusurinya. Upaya kecil ini kemudian menjadi besar dan serius hingga melahirkan sebuah buku tebal hasil penyusuran intelektual Henry Lincoln—yang dibantu oleh Michael Baigent dan Richard Leigh—berjudul “Holy Blod, Holy Grail” yang sangat controversial, terutama terhjadap keyakinan Gereja Katolik Roma (1982). Buku inilah yang kemudian dijadikan pegangan utama Dan Brown, untuk menulis novel ‘The Da Vinci Code’.

[2] Nama belakang pendeta ini oleh Dan Brown dipakai menjadi Jacques Sauniére, pelakon Grand Master Biarawan Sion sekaligus kakek dari Sophie Neveu—gadis salah satu keturunan Yesus—dan sahabat Robert Langdon, profesor simbologi Universitas Harvard, yang di awal novel The Da Vinci Code ditemukan oleh Robert Langdon mati terbunuh dengan posisi jasadnya membentuk The Vitruvian Man, salah satu karya Leonardo Da Vinci.

[3] Holy Blood, Holy Grail mencatat usia 30 tahun.

[4] Di Indonesia beredar dengan judul “The Sauniere’s Da Vinci, Where It All Began” (Awal Terungkapnya “Da Vinci Code”) dan didistribusikan pada bulan April 2006 oleh Emperor Edutainment.

Sejarah Rahasia Freemasonry dan Iluminati (11)

Biarawan Sion awalnya—sebelum peristiwa Penebangan Pohon Elm di tahun 1187—bernama Ordo Sion yang dipercaya menempati sebuah Gereja di atas Gunung Bukit Sion di selatan kota Yerusalem. Seperti juga organisasi maupun ordo lainnya, maka ordo ini pun memiliki Sang Guru dari waktu ke waktu. Dalam periodesasi yang ketat maupun tidak.

Setelah Ordo Sion berubah menjadi Biarawan Sion, maka pejabat Grand Master organisasi ini menurut Dossiers Secrets adalah:


Jean de Gisors                           1188 – 1220
Marie de Saint-Clair                1220 – 1266
Guillaume de Gisors                1266 – 1307
Edouard de Bar                        1307 – 1336
Jeanne de Bar                           1336 – 1351
Jean de Saint-Clair                 1351 – 1366
Blanche d’Evreux                    1366 – 1398
Nicolas Flamel                         1398 – 1418
René de Anjou                         1418 – 1480
Ioland de Bar                           1480 – 1483
Sandro Filipepi                       1483 – 1510
Léonardo Da Vinci                 1510 – 1519
Connétable de Bourbon        1519 – 1527
Ferdinand de Gonzague       1527 – 1575
Louis de Nevers                      1575 – 1595
Robert Fludd                          1595 – 1637
Johann Valentin Andrea      1637 – 1654
Robert Boyle                           1654 – 1691
Isaac Newton                          1691 – 1727
Charles Radclyffe                   1727 – 1746
Charles de Lorraine               1746 – 1780
Maximilian de Lorraine       1780 – 1801
Charles Nodier                       1801 – 1844
Victor Hugo                            1844 – 1885
Claude Debussy                     1885 – 1918
Jean Cocteau                          1918 –   1963
Francois Ducaud-Bourget   1963 – 1981
Pierre Plantard                      1981 – 1984

Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln, trio penulis Holy Blood, Holy Grail berani memastikan bahwa apa yang terdapat dalam The Dossiers Secrets di atas adalah benar. “Kami telah menyimpulkan bahwa daftar Grand Master dalam Dossiers Secrets itu sangat akurat,” demikian ujar mereka. Namun selain itu, ada pula daftar para Grand Master Biarawan Sion versi Vaincare No.3, September 1989 (hal.22) yang dieditori oleh Thomas Plantard de Saint-Clair, orang yang diduga sama dengan Pierre Plantard. Inilah versi keduanya yang dinilai lebih lemah dibanding versi yang pertama:
Jean- Tim Negri d’Albes                        1681
Francois d’Hautpoul                               1703
André Hercule de Rosset                       1726
Prince Charles Alexander of Lorranie 1766
Archduke Maximilian Franz of Austria 1780
Charles Nodier                                         1801
Victor Hugo                                              1844
Claude Debussy                                       1885 – 1918
Jean Cocteau                                            1918 – 1963
Francois Balphangon                             1963
John Drick                                                1969
Pierre Plantard de Saint Clair               1981
Philippe de Cherisey                               1984
Patrice Pelat                                             1985
Pierre Plantard de Saint-Clair              1989
Thomas Plantard de Saint-Clair           1989

Grand Master atau Maha Guru Biarawan Sion biasanya disebut sebagai “Nautonnier” yang memiliki makna “Navigator” atau Nakhoda. Amat mungkin, penggunaan istilah ini merujuk pada fungsi Maha Guru Biarawan Sion yang memiliki kewenangan terhadap arah kebijakan ordo ini dalam menghadapi tantangan dan mengemban misi rahasia yang sudah berumur sangat tua. Dalam memilih Grand Masternya, Biarawan Sion bisa dianggap lebih maju ketimbang Gereja Katolik karena mereka membolehkan perempuan menempati posisi tertinggi di dalam ordo ini. Empat Maha Gurunya adalah perempuan. Bahkan dewasa ini di salah satu cabang di Perancis, ordo ini dipimpin oleh Grand Master perempuan.[1] Jika Grand Master Biarawan Sion yang laki-laki sering memiliki nama John, Jean, atau Yohanes (semuanya sama dengan istilah ‘John’), maka yang perempuan biasanya sering memiliki nama Jeanne, Joanna, atau Joan. Leonardo Da Vinci sendiri yang oleh para peneliti disepakati merupakan salah satu Grand Master Biarawan Sion dalam kurun waktu hidupnya, memiliki nama gelar Jean IX.

Menurut struktur organisasinya, di bawah Grand Master Biarawan Sion atau Sang Nautonnier terdapat satu tingkatan yang diduduki tiga orang yang disebut “Pangeran Noachite de Notre Dame”. Di bawahnya lagi ada tingkatan yang tersusun atas sembilan orang yang disebut “Croisé de Saint Jean”, atau “Ksatria Saint Yohannes” (Dalam versi anggaran dasar terbaru diistilahkan dengan nama “Constable”). Di bawahnya masih ada enam tingkatan lagi dengan struktur yang berubah dan tidak bisa ditentukan kepastiannya. Tiga lapisan puncak diisi oleh  tigabelas anggota paling berpengaruh. Mereka menjadi semacam dewan pengatur yang disebut sebagai Arch Kyria. Sebutan ini sebenarnya mengacu pada penghormatan atas feminitas, sepadan dengan istilah ‘Lady’ dalam bahasa Inggris. Di awal abad pertama masehi, di Yunani istilah ini merujuk pada Dewi Isis.

Grand Master pertamanya bernama Jean de Gisors. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa sebagai Grand Master pertama ia memiliki gelar ‘Jean II’? Siapakah yang menjadi ‘Jean I”nya? Menurut para peneliti, di antaranya tiga serangkai penulis The Holy Blood and the Holy Grail—Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln—juga Lynn Picknett dan Clive Prince yang menulis buku “The Templar Revelation”, gelar ‘Jean I’ merupakan gelar yang ditujukan bagi Yohannes Sang Pembaptis yang memiliki kedudukan sangat istimewa bagi ordo tersebut.

Bahkan dalam buku Rennes-Le-Château: capitale secrete de l’histoire de France karya Jean-Pierre Deloux dan Jacques Brétigny yang terbit tahun 1982, bersamaan tahun dengan The Holy Blood and the Holy Grail, dengan tegas menyatakan bahwa salah satu pemimpin Perang Salib pertama bernama Godfroi de Bouillon merupakan pemimpin suatu ‘pemerintahan rahasia’ yang memiliki misi khusus dalam mengobarkan Perang Salib.

Di Palestina, Godfroi sempat mengadakan pertemuan dengan sebuah kelompok misterius bernama Gereja Yohanes dan kemudian membangun sebuah rencana besar bagi ordo dan gereja tersebut yang didasarkan atas kekuasaan roh. Guna memuluskan pencapaian rencana besar itu maka dibentuklah sebuah ordo militer khusus bernama Knight Templar. Deloux dan kawannya itu mengutip pernyataan Pierre Plantard yang mengatakan,

“Pada awal abad ke-12 Masehi, tersatukanlah berbagai sarana, spiritual maupun temporal, yang memungkinkan terwujudnya impian Godfroi de Bouillon yang amat mulia; Ordo Templar akan menjadi penjaga Gereja Yohanes dan pengusung panji-panji dinasti yang agung, bala tentara yang penuh pada semangat Sion.”[2]

Jadi, tidak seperti perkiraan banyak orang, bahwa Biarawan Sion maupun Ksatria Templar—dan nantinya juga para penerusnya seperti Freemason, Rosicrusian, dan sebagainya—sama sekali bukan pengawal sejati Yesus, melainkan ‘mengaku’ sebagai pengawal Yohanes Sang Pembaptis. Pengakuan ini pun patut dicurigai, karena mereka sesungguhnya punya motif-motif satanismenya sendiri yang berakar pada masa purba, jauh sebelum Yohanes Sang Pembatis dilahirkan. Bisa jadi, pengakuan bahwa mereka pengawal Yohanes Sang Pembaptis hanya merupakan upaya cari selamat, atau bahkan upaya pengaburan, yang membuat kehadiran mereka disamakan dengan orang-orang Kristen pada umumnya. Padahal mereka sama sekali bukan Kristen.(Bersambung/Rizki Ridyasmara)

[1] Michael Baigent cs; The Messianic Legacy; hal.345.

[2] Deloux dan Brétigny, Rennes-Le-Château: capitale secrete de l’histoire de France; hal. 45. Dalam “The Templar Revelation” hal. 83-84.