Selasa, 13 Mei 2014

Romantis Ala Rasulullah SAW

Ini Resep Romantis Ala Rasulullah SAW



”Dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluarga”
(HR Bukhari dan Muslim)


Kehidupan keluarga Rasulullah SAW sangat luar biasa. Rasul, adalah sosok yang romantic, dan sayang pada istri.  Wakil Sekretaris Umum MUI, KH Tengku Zulkarnaen menuturkan, bagaimana kehangatan yang dicontohkan Rasul dalam hidup berumah tangga.”Rasul pendamping istri yang terbaik,”kata dia kepada Republika  di Jakarta, Kamis (9/1).
Contoh sederhana, kata dia, Rasul menyapa istrinya dengan sapaan hangat dan baik. Rasul menyapa Khadijah dengan sebutan ya habibi, wahai kekasihku. Begitu juga dengan Aisyah, yang disapa dengan ya humaira’ wahai wanita yang pipinya kemerahan.

Tengku menyayangkan, teladan ini tak banyak dipraktikkan umat. Malah justru panggilan lembut dan romantis itu ditiru oleh orang Barat. Selama hidup 25 tahun dengan Khadijah tidak ada kata-kata maupun perbuatan kasar.

Rasulpun tidak menyakiti istri pertamanya Khadijah dengan menduakannya. Rasul hanya memiliki satu orang istri sejak menikah dengan Khadijah pertama kali pada usia 25 tahun dengan perbedaan usia 15 tahun lebih tua.

Rasul baru menikah kembali setelah satu tahun Siti Khadijah wafat. Hal itupun setelah didesak oleh sahabat nabi karena kaum wanita kesulitan belajar agama dari teladan Rasul.

Akhirnya Rasulpun dipilihkan seorang wanita yang berpengalaman janda dengan banyak anak berusia 61 tahun lebih tua 10 tahun dari Rasulullah. Istri kedua bernama Saudah binti Zam’a.

Nabi juga mengajarkan untuk menjaga rahasia keluarga khususnya rahasia istrinya. “Sesungguhnya suami merupakan pakaian istri dan istri adalah pakaian suami,”ujarnya.  

Lebih lanjut, Tengku mengatakan Rasul menekankan pentingnya menjaga keharmonisan keluarga karena pada hakikatnya, baiti jannati, rumahku adalah surgaku. Saat seseorang memiliki keluarga yang harmonis maka dia akan bekerja dengan tenang. Ketenangan di luar itu cermin dari rumah tangga yang damai. 

Rasulullah tidak pernah membuat masalah dengan istrinya. Dia tidak pernah mencela istri ketika makanan yang dimasak istri tidak enak. Pernah ketika pulang ke rumah, istrinya melarang untuk memakan sayur yang dibuat istrinya karena ketumpahan cuka. Rasul pun menjawab dia suka minum cuka dan sayur masam itu pun dimakannya dengan senang hati.

Begitu juga ketika istrinya memanggang roti terlalu lama hingga gosong. Rasul tetap memakannya sambil berkata roti yang dibakar memang akan hangus. Rasul tetap menjaga keharmonisan keluarga.    
   

Memiliki Kekayaan

Memiliki Kekayaan

Kekayaan bagi sebagian umat Islam dipandang sebagai sesuatu yang kurang penting bahkan buruk. Hal ini wajar jika yang dilihat dalam konteks tersebut adalah sosok Qarun dan Tsa’labah. Mereka memang kufur dan sombong serta menolak menaati perintah Allah Ta’ala.

Tetapi, kalau kita mengacu pada dua sahabat Nabi Muhammad, yakni Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf, kekayaan menjadi penting bahkan sangat dibutuhkan. Dua sahabat Nabi itu tercatat paling banyak membantu memenuhi kebutuhan umat Islam di Madinah.

Hanya saja kekayaan yang perlu diraih umat Islam harus ditempuh dengan cara yang benar-benar halal. Selain itu, diniatkan untuk ibadah dan jihad dengan memajukan harkat dan martabat umat. Bukan memperkaya diri, lalu berbagga-banggaan dan bermegah-megahan.

Sebab jika diperhatikan, perintah jihad di jalan Allah dimulai dengan harta baru jiwa. “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS al-Mumtahanah [61]: 10-11).

Artinya, dengan harta atau dengan kekayaan, umat Islam bisa berjihad dan karena itu  mendapat perniagaan yang dapat menyelamatkan dirinya dari siksa api neraka. Jika umat Islam tidak memiliki harta maka jihad harta tidak bisa dilakukan.

Dengan demikian, harta atau kekayaan itu sangat penting untuk kelangsungan ibadah, bahkan jihad umat Islam itu sendiri. Seperti yang dicontohkan Utsman bin Affan yang menyedekahkan kekayaannya dalam jumlah cukup besar kepada umat Islam.

Demikian juga dengan Abdurrahman bin Auf yang juga seolah berlomba menyedekahkan harta yang dimilikinya.
Bahkan, istri Nabi Muhammad, Sayyidah Khadijah, merelakan seluruh harta kekayaannya digunakan untuk perjuangan dakwah Islam.

Karena itu, umat Islam harus memiliki etos kerja yang bagus dalam mencari karunia-Nya berupa harta kekayaan. Apalagi, dua dari lima rukun Islam, yakni zakat dan haji, hanya bisa dilakukan kalau umat Islam memiliki harta.

Begitu pula dengan bidang keilmuan. Orang bisa sekolah atau belajar mengelola harta. Lebih-lebih dalam gerakan dakwah, mutlak harta sangat diperlukan. Dengan demikian, umat Islam jangan sampai salah paham terhadap konsep kekayaan.

Kaya itu baik selama memang niat kita ibadah dan jihad di jalan-Nya. Bahkan sekiranya umat Islam menguasai peredaran uang dengan niat ibadah dan jihad, tentu bangsa dan negara ini akan menjadi lebih  baik. Seperti Abdurrahman bin Auf yang berhasil menguasai pasar di Madinah.

Hanya saja tetap harus dipahami, yang terbaik di sisi Allah bukanlah orang kaya atau miskin melainkan yang bertakwa (QS al-Hujuraat [49]: 13), kemudian mereka yang terbaik amalannya (QS al-Mulk [67]: 2).

Dengan demikian, milikilah harta atas dasar takwa dan berorientasi pada terwujudnya //ahsanu amala// atau amalan yang baik di dunia yang fana ini.

sumber: http://www.republika.co.id/